Jumat, 10 Agustus 2012

MENGOBATI PENYAKIT HATI

“Ingatlah! Sesungguhnya didalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan jikalau ia rosak, maka rosaklah seluruh tubuhnya, tidak lain dan tidak bukan itulah yang dikatakan hati” (HR. Muttafaq’alaih)

                1. Kategori Hati





Islam membagi hati itu menjadi tiga bagian yaitu : Pertama, hati yang bersih. Yaitu hati yang senantiasa mengingat Allah swt. Ketika mendengar ayat-ayat Allah bergetar dan semakin bertambah keimanannya. Hati yang bersih menempatkan cintanya hanya kepada Allah swt. semata. Ia rela membela atau menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah swt. Sehingga senantiasa rindu akan perintah-Nya. Hati yang bersih akan kikir terhadap waktu; ia akan merasa bersalah dan bersedih jika suatu waktu dirinya lupa atau lalai tidak memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Ia akan merasa sayang jika waktunya terbuang percuma hanya untuk nongkrong , ngobrol tak karuan, nonton tv, melamun atau tidur tanpa kenal waktu.

            Kedua, hati yang mati. Yaitu hati yang keras laksana batu granit. Jauh dari hidayah dan sulit menerima kebenaran. Nasehat yang diberikan ibarat angin lalu bahkan dianggapnya merendahkan derajatnya. Ia egois, tidak mau menerima kritikan dari orang lain. Emosional, jika pendapatnya ada yang membantah. Picik, merasa diri paling benar. Allah SWT menggambarkan :
"mereka tuli, bisu, buta, maka tidaklah mereka kembali ke jalan benar." (QS. Al Baqarah ayat 18).

            "Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka apakah kamu beri peringatan atau tidak, mereka tetap tidak akan beriman.  Allah telah mematikan hati mereka, pendengaran mereka dan penglihatan mereka. Bahkan semuanya benar-benar tertutup." (Al-Baqarah : 6-7).

            Mereka yang termasuk kelompok ini adalah para pemimpin dhalim, Yahudi, Nasrani dan mereka yang berkecimpung dalam dunia kemaksiatan yang menghalang-halangi cahaya Allah. 

            Ketiga, Hati yang sakit. Yaitu hati yang senantiasa gundah gulana, ragu dan tidak pernah merasakan nikmatnya iman dan Islam. Ibarat orang yang kehausan di padang pasir, ketika akan minum, ia tak mampu menelan air karena tenggorokannya sakit. 

            Orang yang hatinya sakit, memandang dosa besar seperti debu yang beterbangan, kecil dan tanpa beban. Padahal seorang muslim tulen, memandang dosanya seperti duduk di bawah gunung, ia begitu takut jika gunung itu runtuh dan menimpanya. Semantara orang yang sakit hatinya akan secepat  kilat melupakan dosa-dosa yang diperbuatnya dan tidak pernah berhenti melanggar aturan Allah SWT.

            Orang yang sakit hatinya tetap gundah gulana ketika lantunan ayat suci al-Quran dibacakan. Ia tidak menikmati bacaan itu sebagai kalam llahi. Jangankan bergetar, mendengarnya pun tidak membikin ia betah. Hal ini disebabkan dalam hatinya terdapat penyakit ujub, riya dan takabur sehingga tidak merasakan kehadiran Allah dalam setiap jengkal hidupnya.

            Orang yang sakit hatinya jika mendapatkan suatu permasalahan akan mencari pemecahan selain kitab Allah SWT. Ia akan memutuskan sesuai selera nafsu atau keinginan pemimpinnya yang dlolim. Ia memang mengakui Islam, tapi begitu takut dengan undang-undang Islam (Islam phobi). Mereka lebih menjunjung tinggi dan menyanjung-nyanjung rekonsiliasi dengan iblis dari pada dengan sesama muslim yang jelas saudaranya sendiri.

            Mereka yang termasuk kelompok ini adalah segolongan kaum muslimin yang hidup ditengah era globalisasi. Kehidupan yang telah diracuni sekularisme, hedoisme, palagisme, Yahudiisme bahkan komunisme. Mereka dengan menegakkan syiar Islam dengan dalih rekonsiliasi, toleransi, dan saling menghargai. Mereka menebar "penyakit hati" di masyarakat sehingga mayoritas umat Islam hatinya berpenyakit. 

            2. Sumber Penyakit Hati
            Berdasarkan keterangan baik dari Al-Quran dan As-Sunah, sumber penyakit hati adalah : Pertama, lemahnya akhlak. Ia sering meremehkan dosa kecil sehingga lambat laun tidak menyesal lagi melakukan dosa tersebut. Dalam perkembangan berikutnya tidak merasa dosa lagi ketika melakukan dosa besar. 

Kedua, Tidak adanya kehati-hatian (ihtiyat). Maksudnya selalu memandang remeh barang subhat. Padahal barang subhat lebih dekat ke haram (HR. Bukhori). Ia memandang barang subhat itu sama dengan barang halal. 

Ketiga, terlena dengan kehidupan dunia. Dunia ini fana namun begitu banyak orang yang merasa akan hidup selamanya. Sehingga apa yang ia perhitungkan dari untung dan rugi berdasarkan ukuran keduniaan, bukan keuntungan atau kerugian untuk akhirat kelak. 

Keempat, takut sengsara. Katakutan pada yang satu ini sangat dominan dan Islam pun memahaminya. Namun ketakutan yang berlebihan bisa menjerumuskan orang pada kehidupan yang menghalalkan segala cara. Takut sengsara menyebabkan seseorang berani korupsi dan kulosi. 

Kelima, kepakaan yang berlebihan (perasa). Seseorang yang terlalu perasa akan mudah tersinggung dan marah serta akan mudah berburuk sangka.Kondisi hati seperti itu akan sangat mudah dihinggapi syetan. Akibatnya emosi tak terkendali terjadilah pembunuhan atau tindakan yang menyakiti orang lain. 

Keenam, Menyia-nyiakan waktu. Seseorang yang menyia-nyiakan waktu berarti telah mengorbankan berbagai kepentingan untuk bekal di akherat nanti. Ia berpikir bahwa "nanti" masih ada kesempatan, kemudian "nanti dan nanti lagi" hingga ajal menjemput. Makanya Rasulullah mengigatkan mengingatkan dalam riwayat Bukhari 


Dari Ibnu 'Umar. la berkata : Rasulullah saw. pegang dua bahu saya, lalu ia bersabda : ,,Beradalah di dunia seolah-olah engkau orang asing atau musafir"; dan adalah Ibnu 'Umar berkata : Apabila engkau masuk pada waktu petang, maka janganlah engkau tunggu waqtu pagi; dan apabila engkau masuk pada waqtu shubuh, maka ja nganlah engkau tunggu waqtu petang, tetapi ambillah (kesempatan) dari shihatmu untuk (masa) sakitmu, dan dari hidup-mu untuk matimu".

            3. Mengobati Sakit Hati
            Orang mati mustahil kembali lagi  kedunia begitu pula hati yang telah mati akan mustahil dihidupkan kecuali dengan  izin dari Allah swt.  Adapun hati yang sakit akan mudah disembuhkan jika ia berusaha mencari obatnya. Adapun cara mengobati hati yang sakit adalah :

            Pertama, Qiyamul lail (shalat malam). Qiyamul lail adalah di antara amalan sunat yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah. Hal ini  mengindikasikan bahwa ada kaistimewaan tersendiri.Qiyamul lail, merupakan bukti penghambaan murni seorang makhluk kepada khaliknya. Saat malam sepi, hanya dia dan kehadiran Allah SWT. Allah SWT pun menjanjikan jalan kaluar yang mudah dalam segala urusan jika rajin mendirikan Qiyamul lail. Seseorang yang rajin mendekatkan diri seperti ini jelas akan terhindar dari berbagai penyakit hati.

            Kedua, membaca al-Quran. Seseorang yang rajin membaca al-Quran akan mendapatkan banyak hikmah, diantaranya ketentraman jiwa disamping pahala yang besar. Al-Quran sendiri merupakan syifaun atau obat bagi segala penyakit hati.

            Ketiga, dzikrullah atau selalu mengingat Allah SWT. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa seorang tidak akan mungkin mencuri di saat ingat Allah SWT. Hal ini berarti, dzikir kepada Allah SWT adalah benteng yang akan menjaga hati kita dari bisikan syetan. Al-Quran sendiri menjelaskan bahwa syetan tidak akan menggoda pada hamba yang mukhlis (bersih, damai). Dzikir yang dimaksud di sini cakupannya sangat luas, bisa berarti lisan bisa juga perbuatan. Dengan lisan yaitu senantiasa melafalkan kalimah toyibah atau kata-kata yang baik seperti subhanallah, alhamdulillah, astagfirullah, dll. Dengan perbuatan misalnya selalu terdorong untuk menolong orang lain, menyingkirkan duri di jalanan, menjaga kebersihan, dll.

            Keempat, memperbanyak amalan sunnah. Semakin banyak amalan sunnah yang dilakukan berarti memberikan nilai tambah. Dengan memperbanyak amalan sunnah berarti lebih memadatkan waktu kita dengan amalan yang diridlai Allah SWT.  Pahala amalan sunnat juga dapat mengimbangi dosa-dosa kita. 

            Kelima, sabar. Sabar bukanlah bertopang dagu dengan menyerahkan segalanya pada nasib. Sabar adalah berjuang, bekerja keras tanpa henti dan tanpa  putus asa sambil tetap bertawakal kepada Allah SWT. Meraka yang sabar akan berani hidup di jalan Allah SWT apapun kendalanya, prinsipnya, hidup mulia atau mati syahid ('isy kariman aomut syahidan). Seseorang yang sabar, tetap hidup sejahtera lahir bathin sekalipun krisis terus mendera karena katekunan yang dimiliki orang sabar akan menghantarkannya pada kahidupan yang layak. 

            “Sungguh bahagia orang yang selalu mensucikan jiwanya dan celakalah orang yang selalu mengotori jiwanya. (QS. Asy-Syams).
            Semoga Allah SWT senantiasa melindungi hati kita dari berbagai virus modern yang mencemari hati kita. Kepada Allah kita bertawakal dan hanya kepadanya kita kembali. Wallahua’lam bishawab.


0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. e-Dakwah al-Hafizh - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz