Kamis, 06 Agustus 2015

Haruskah Mengangkat Tangan ketika Berdoa? Inilah jawabannya!

By Hafidh vdunz | At 07.47 | Label : , | 0 Comments
Sudah menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat kita apabila berdoa mengangkat kedua tangan, dan ada hadits yang menerangkan bahwasanya Nabi mengangkat tangannya dalam berdoa ketika:
1. Sesudah shalat
2. Melihat Ka'bah
3. Menerima Wahyu
4. Taubat
5. Setelah beres menguburkan jenazah
Diantara hadits-hadits yang menerangkan bahwasanya Nabi mengangkat tangannya ketika berdoa yaitu diterangkan dalam beberapa riwayat, diantaranya:

1. Hadits Mengangkat Tangan Setelah Shalat
Hadits Pertama

عَنِ الأَسْوَدِ اَلْعَامِرِيِّ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ صَلَيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ اَلْفَجْرَ فَلَمَّا سَلَمَ اِنْحَرَفَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَدَعَا

Artinya: Hadits ini diterima dari Aswad al-Amiri, dari ayahnya, ia berkata: kami shalat fajar (subuh) bersama Rasulullah, ketika beliau salam, beliau bergeser (berpindah tempat) serta beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa.

Keterangan hadits: Al-Mubarakafuri menjelaskna di dalam kitabnya Tuhfatul ahwadzi, hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abu Syaibah di dalam mushanafnya, sebagian ulama menerangkan bahwasanya hadits ini diriwayatkan tanpa sanad serta menyandarkan kepada pengarangnya (Ibnu Abu Syaibah). Dan saya tidak menentukan sanadnya apakah shahih atau dhoif, hanya Allah yang lebih tahu. Tetapi setelah saya melihat di dalam al Mushanaf sebagaimana yang diceritakan oleh Al Mubarakafuri, saya tidak mendapatkan hadits ini, tetapi yang saya dapatkan di dalam hadits ini hanya sampai pada kalimah "فَلَمَّا سَلَمَ اِنْحَرَفَ" tanpa kalimah "وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَدَعَا" [kitab Al Mushanaf Ibnu Abu Syaibah juz  I  halaman 269]. Oleh karena itu, periwayatan Ibnu Abu Syaibah yang diterangkan Al Mubarakafuri tidak bisa dipastikan dan tidak bisa diterima. Jadi hadits diatas tergolong hadits dhoif (lemah).

Hadits Kedua
 عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِ أَنَّهُ قَالَ مَا مِنْ عَبْدِ بَسَطَ كَفَّيْهِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثُمَّ يَقُولُ اَللّهُمَّ إِلهِي وَإِلهَ إِبْرَاهِيْمَ … إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لاَ يَرُدَّ يَدَيْهِ خَائِبَتَيْنِ رواه ابن السني

Artinya: Hadits ini diterima dari sahabat Anas, dari Nabi, ia berkata: Tidak ada seorang hamba mengangkat kedua tangannya di setiap akhir shalat, seraya berdoa, Ya Allah! Pangeranku dan pangeran Ibrahim, kecuali hak bagi Allah ‘Azza wa Jalla tidak membalikan kedua tangannya di dalam keadaan hampa. [Hadis riwayat Ibnu As Sunni, lihat di dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, juz ke II halaman ke 199]

Keterangan Hadis : Hadis ini dhoif disebabkan ke-dhoifan rawi yang bernama Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman al Qurasyi.,  Imam Ahmad menjelaskan: saya melihat hadits-hadits Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman al Qurasyi sebab hadits-haditsnya palsu . An Nasai menjelaskan: Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman al Qurasyi adalah rowi yang tidak tsiqat”. Ad Daraquthni menjelaskan: Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman al Qurasyi rowi yang ’Munkarul hadis”., serta imam Ibnu Hiban menjelaskan : Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman al Qurasyi tidak halal haditsnya untuk dipakai sebagai dalil, sebab haditsnya dhoif [ silahkan lihat di dalam kitab Mizanul ‘Itidal, juz ke IV halaman 376]
Hadits Ketiga
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي يَحْيَى قَالَ رَأَيْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ الزُّبَيْرِ وَرَأَى رَجُلاً رَافِعًا يَدَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَتِهِ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهَا قَالَ اِنَّ رَسُولَ اللهِ لَمْ يَكُنْ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ صَلاَتِهِ.

Artinya: Hadits ini diterima dari sahabat Muhammad bin Abi Yahya, ia berkata: saya melihat Abdullah bin Zubair sedang melihat seseorang yang mengangkat tangannya sebelum beres shalatnya, ketika sudah beres shalatnya, Abdullah bin Zubair berkata: Sesungguhnya Rasalullah tidak pernah mengangkat tangannya sebelum beres shalatnya. [Hadis riwayat Abu Abdullah al Hanbali, silahkan lihat di dalam kitab al Ahaditsil Mukhtarah juz IX, halaman 336]

Keterangan Hadits: Hadits ini dhoif sebab sanadnya terputus yaitu rowi yang bernama Muhammad bin Abu Yahya al-Aslami, Abu Abdullah al Madani tidak melihat ataupun mendengar Abdullah bin Zubair. Muhammad bin Abu Yahya al Aslami, Abu Abdullah al Madani beliau wafat pada tahun 144 H (lihat kitab Tahdzibul Kamal) sedangkan Abdullah bin Zubair dilahirkan setelah 20 bulan dari bulan Hijriah.

2. Hadits Mengangkat Tangan ketika Melihat Ka’bah
Hadits Pertama
عَنِ بْنِ جُرَيْجٍ أَنَّ النَّبِيَ كَانَ إِذَا رَأَى الْبَيْتَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَقاَلَ


Artinya: dari sahabat Ibnu Juraij, sesungguhnya Nabi ketika melihat Ka’bah beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa:

اَللّهُمَّ زِدْ هَذاَ الْبَيْتَ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَتَكْرِيْمًا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَكَرَمَهُ وَعَظَمَهُ مِمَنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَشْرِيْفًا وَتَكْرِيْمًا وَتَعْظِيْمَا وَبِرّ
[Hadits riwayat imam bahaqqi di dalam kitab sunan al-kubro juz V halaman 73, juga diriwayatkan oleh imam syafi'i di dalam kitab Al-um juz  2 halaman 169]

Hadits Kedua
عَنْ مَكْحُوْلٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ إِذَا دَخَلَ مَكَّةَ فَرَأَى الْبَيْتَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَكَبَّرَ

Artinya: Dari sahabat Makhul, ia berkata: keadaan Nabi ketika masuk kota Makkah lalu beliau melihat Ka’bah, beliau mengangkat kedua tangannya dan beliau bertakbir seraya berdoa:

اَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ اَللّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَكْرِيْمًا وَتَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَبِرًّا
 [Hadits riwayat imam ibnu abi syaibah di dalam kitab al Mushanaf juz  VII, halaman 102]
Hadis Ketiga
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أُسَيْدٍ أَبِي سُرَيْحَةَ اَلْغِفَارِيِّ أَنَّ النَّبِيَ كَانَ إِذَا نَظَرَ إِلَى الْبَيْتِ قَالَ اَللّهُمَّ زِدْ بَيْتَكَ هَذَا تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَتَكْرِيْمًا وَبِرًّا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَعَظَمَهُ مِمَنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَعْظِيْمًا وَتَشْرِيْفًا وَتَكْرِيْمًا وَبِرًّا وَمَهَابَةً.

Artinya: Dari sahabat Hudzaifah bin Usidi Abi Suraihah al-Ghifari, sesungguhnya Nabi ketika beliau melihat Ka’bah berdoa:

اَللّهُمَّ زِدْ بَيْتَكَ هَذَا تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَتَكْرِيْمًا وَبِرًّا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَعَظَمَهُ مِمَنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَعْظِيْمًا وَتَشْرِيْفًا وَتَكْرِيْمًا وَبِرًّا وَمَهَابَةً.

 [Hadis riwayat imam Thobroni di dalam kitab al Mu’jamul Ausath juz  VII, halaman 81]

Keterangan hadits: Ketiga hadits ini dhoif selain dari rantai sanadnya yang terputus (munqothi) juga di dalam sanadnya terdapat seorang rowi yang bernama Ashim bin Sulaiman al Kauzi, Ashim adalah rowi yang Munkarul Hadits. Adapun mengenai doa didalam hadits diatas diamalkan oleh sahabat Umar tanpa mengangkat tangan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah:

أَنَّ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْبَيْتَ

Artinya: Sesungguhnya Umar apabila memasuki Ka’bah beliau berdoa:

 اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا  بِالسَّلاَمِ

[Hadis riwayat imam ibnu abi syaibah di dalam kitab al Mushannaf juz  IV, halaman 81]





3. Hadits Mengangkat Tangan ketika Menerima Wahyu


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ قَال سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ إِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ سُمِعَ عِنْدَ وَجْهِهِ كَدَوِيِّ النَّحْلِ فَأُنْزِلَ عَلَيْهِ يَوْمًا فَمَكَثْنَا سَاعَةً فَسُرِّيَ عَنْهُ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا وَارْضِنَا وَارْضَ عَنَّا ثُمَّ قَالَ أُنْزِلَ عَلَيَّ عَشْرُ آيَاتٍ مَنْ أَقَامَهُنَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ قَرَأَ ( قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ) حَتَّى خَتَمَ عَشْرَ آيَاتٍ.

Artinya: dari sahabat Abdurrahman bin Abdil Qori’ berkata, saya mendengar Umar bin Khatab berkata, keadaan Nabi apabila turun wahyu kepadanya, kedengaran seperti suara gemuruh lebah, lalu disuatu hari diturunkan wahyu kepadanya, kami berdiam diri sebentar, lalu diungkapkan makna wahyu itu kepadanya, lalu beliau menghadap kea rah kiblat sambil mengangkat tangan dan berdoa:

اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلاَ تَنْقُصْنَا وَأَكْرِمْنَا وَلاَ تُهِنَّا وَأَعْطِنَا وَلاَ تَحْرِمْنَا وَآثِرْنَا وَلاَ تُؤْثِرْ عَلَيْنَا وَارْضِنَا وَارْضَ عَنَّا

Lalu nabi bersabda: telah diturunkan kepada kami 10 ayat barang siapa yang berpegang teguh dan mengamalkan ayat itu, niscaya akan masuk syurga, lalu Nabi membaca (Qod aflahal Mu’minun) sampai ayat 10.

[Hadits ini diriwayatkan oleh imam turmudzi di dalam kitab sunan at Tirmidzi juz V halaman 305]

Keterangan hadits: Sanad hadits diatas dhoif karena kemajhulan seorang rowi yang bernama Yunus bin Sulaim, Imam nasa’I mengatakan bahwa dia adalah seorang yang munkar. [silahkan lihat di dalam kitab tahdzibul Kamal juz XXXII, halaman 508-510]

4. Hadits Mengangkat Tangan ketika Taubat

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنِ النَّبِي قَالَ: كُلُّ شَيْءٍ يَتَكَلَّمُ بِهِ بْنُ آدَمَ فَإِنَّهُ مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ فَإِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً فَأَحَبُّ أَنْ يَتُوْبَ إِلَى اللهِ فَلْيَأتِ رَفِيْعَهُ فَلْيَمُدَّ يَدَيْهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ يَقُولُ اَللَّهُمَّ إِنِّي أَتُوبُ إِلَيْكَ مِنْهَا لاَ أَرْجِعُ إِلَيْهَا أَبَدًا فَإِنَّهُ يَغْفِرُ لَهُ مَا لَمْ يَرْجِعْ فِي عَمَلِهِ ذَلِكَ.

Artinya: dari sahabat Abi Darda, dari Nabi beliau bersabda: Setiap yang diucapkan oleh anak Adam pasti akan dicatat, ketika membuat satu kesalahan, akan dicintai Allah apabila taubat, dan bersegera memuliakan Allah lalu mengangkat kedua tangan dan berdoa:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَتُوبُ إِلَيْكَ مِنْهَا لاَ أَرْجِعُ إِلَيْهَا أَبَدًا فَإِنَّهُ يَغْفِرُ لَهُ مَا لَمْ يَرْجِعْ فِي عَمَلِهِ ذَلِكَ

[Hadis riwayat imam hakim di dalam kitab al-mustdrok juz  I halaman 679]

Keterangan hadits: menurut Imam Hakim hadits ini shahih sama dengan syarat periwayatan imam bukhori muslim, tapi setelah diteliti oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, ternyata hadits ini tidak ada dalam periwayatan mereka dalam kitab shahihnya sehingga pernyataan Imam Hakim tidak bisa diterima sebab setelah diteliti lebih lanjut hadits ini tergolong hadits yang dhoif karena di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Fudhail bin Sulaiman an Numair. [silahkan lihat di dalam kitab Tahdzibul Kamal juz XXIII halaman 271-275]

5. Hadits Mengangkat Tangan Setelah Beres Menguburkan Jenazah

عَنْ عَبْدِاللهِ قَالَ : وَاللهِ لَكَأَنِّي أَرَى رَسُولَ اللهِ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ وَهُوَ فِي قَبْرِ عَبْدِاللهِ ذِي الْبَجَادَيْنِ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرَ رضي الله تعالى عَنْهُمْ يَقُولُ : أَدُلِّيَا مِنِّي أَخَاكُمَا وَأَخَذَهُ مِنْ قِبَلِ الْقِبْلَةِ حَتَّى أَسْنَدَهُ فِي لَحْدِهِ ثُمَّ خَرَجَ النَّبِيُ اللهِ وَوَلاَّهُمَا الْعَمَلَ فَلَّمَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِهِ اِسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ رَافِعًا يَدَيْهِ يَقُولُ اَللّهُمَّ إِنِّي أَمْسَيْتُ عَنْهُ رَاضِيًا فاَرْضِ عَنْهُ وَكَانَ ذلِكَ لَيْلاً.

Artinya: dari sahabat Abdillah berkata, Demi Allah sesungguhnya saya melihat Rasulullah ketika perang tabuk, beliau berada dipemakaman Abdullah Dzil Bajadain, Abu Bakar, dan Umar semoga Allah meridhoi kepada mereka, lalu ia berkata: apakah ingin kalian berdua membantu saya untuk saudara kalian? Maka dia memasukkan jenazah Abdullah dari arah kiblat, sampai ia membaringkan jenazahnya di lubang kubur, lalu Rasulullah naik dari lubang kubur dan menghadap kiblat lalu mengangkat kedua tangannya seraya beroda:

اَللّهُمَّ إِنِّي أَمْسَيْتُ عَنْهُ رَاضِيًا فاَرْضِ عَنْهُ وَكَانَ ذلِكَ لَيْلاً.
 [Hadits riwayat imam abu nu'aim di dalam kitab Hilyatul Auliya juz I halaman 122]

Keterangan hadits: hadits ini tergolong hadits dhoif jiddan (sangat lemah) sebab di dalam sanadnya terdapat rowi yang bernama:
1. Sa’ad bin As Shalt, ia dikategorikan rowi yang majhul
2. Tidak jelas ke- Muttasilan Sa’ad bin As Shalt
3. ‘Abad bin Ahmad Al ‘Aruzi  yang dianggap Matruk [silahkan lihat di dalam kitab al Jarhu wat Ta’dil juz  IV  halaman 68]
---------------------------------------
Hadits-hadits yang Umum yang Sering dipakai Dalil Berdoa Harus Mengangkat Tangan
A. Hadits Pertama

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ.

Artinya: dari sahabat Salman al-Farisi, dari Nabi, beliau bersabda: Sesungguhnya Allah mempunyai sifat malu yang Maha Mulia, Dia akan merasa malu jika seseorang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya lalu dibalikkan kedua tangan itu dalam keadaan hampa [Hadis riwayat imam turmudzi di dalam kitab sunan turmudzi juz  V halaman 520]


Keterangan Hadits : Sanad hadits ini dhoif, sebab semua jalur riwayatnya kumpul di 3 orang yang dhoif, yaitu:
1. Ja’far bin Maimun
2. Sulaiman At Taimi
3. Sulaiman At Taimi
Ketiga rowi ini sama-sama menerima hadits dari abu usman an-nahdi, dari salman al-farisi, dari nabi

B. Hadits Kedua

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِّيٌ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ فَيَرُدُّهُمَا صَفْرًا لَيْسَ فِيْهِمَا شَىْءٌ

Artinya: dari sahabat Jabir berkata, Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah mempunyai sifat malu yang Maha Mulia, Dia akan merasa malu jika seseorang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya dibalikkan kedua tangan itu dalam keadaan hampa yang tidak ada kebaikan padanya. [Hadis riwayat imam Thobroni di dalam kitab majmu al-ausath juz  V halaman 298]

Keterangan hadits: sanad hadits ini dhoif, sebab kedhoifan rowi yang bernama Yusuf bin Muhamad bin al Munkadir, imam Ahmad menganggap rowi tersebut lemah dan cacat, Imam abu Dawud menganggap rowi tersebut dhoif.[silahkan lihat di dalam kitab Tahdzibul Kamal juz XXXII, halaman 456-457]

C. Hadits Ketiga

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ  إِنَّ اللهَ رَحِيْمٌ حَيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ ثُمَّ لاَ يَضَعُ فِيْهِمَا خَيْرًا

Artinya: dari sahabat Anas bin Malik berkata, Rasulullah bersabda sesungguhnya Allah yang Maha pengasih mempunyai sifat malu yang Maha Mulia, Dia merasa malu apabila hambanya mengangkat tangan ketika berdoa kepada-Nya lalu Dia tidak menyimpan kebaikan di kedua tangan hambanya. [Hadits Riwayat Imam Hakim di dalam kitab al-Mustarok juz I halaman 479, juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud di dalam kitab Sunan Abu Dawud juz ! halaman 334]

Keterangan Hadits: Di dalam riwayat Imam Hakim, ada rowi yang bernama Amir bin Yasaf, ia adalah Amir bin Abdullah bin Yasaf, ia adalah rowi yang anggap soleh oleh Imam Abu Hatim. [silahkan lihat di dalam kitab Al Jarhu wa Ta’dil juz VI halaman 329].
Sedangkan pernyataan sholeh dan tsiqoh kepada Amir bin Yasaf masih dipertanyakan oleh para ulama hadits, sebab menurut Imam ibnu Adi Amir bin Yasaf adalah rowi yang munkarul hadits. [silahkan lihat di dalam kitab Lisanul Mizan juz III halaman 224, dan di dalam kitab Ta’jilul Manfaah juz I halaman 206]
Kesimpulan:
1. Hadits-hadits yang menerangkan mengangkat tangan dalam berdoa semuanya Dhoif
2. Berdoa setelah sholat itu dianjurkan tapi tidak sambil mengangkat tangan, berdoa ketika melihat ka’bah itu dianjurkan tapi tidak sambil mengangkat tangan, berdoa setelah menguburkan jenazah itu dianjurkan tapi tidak sambil mengangkat tangan, berdoa ketika taubat itu dianjurkan tapi tidak sambil mengangkat tangan
3. Hukum berdoa sambil mengangkat tangan itu Bid’ah sebab hadits-hadits yang menjelaskannya tergolong hadits dhoif
Tadzkiroh/Peringatan :
Berdoa sambil mengangkat tangan itu dianjurkan ketika shalat Istisqo[Meminta hujan] dan setelah berwudhu saja, selain dari keduanya tidak dianjurkan.

Dalil mengangkat tangan ketika shalat istisqo terdapat di dalam hadits riwayat imam bukhori di kitab Shahih al Bukhari juz  I halaman 226, dan di dalam hadis riwayat imam muslim di kitab Shahih Muslim juz 2, halaman 216, yang diterima dari sahabat annas bin malik :

كَانَ النَّبِيُّ لاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلاَّ فِي الاسْتِسْقَاءِ وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ

Artinya: keadaan Nabi tidak mengangkat kedua tangannya ketika berdoa selain di waktu shalat istisqo sampai kelihatan putih di ketiaknya. [hadits ini shahih sebab di dalam sanadnya semua rowinya tsiqoh dan sholeh]

Adapun mengangkat tangan setelah berwudhu di terangkan di dalam hadis riwayat imam bukhori di kitab shohih bukhori juz  3 halaman 67, yang diterima dari sahabat abi musa :

 لَمَّا فَرَغَ النَّبِيُّ مِنْ حُنَيْنٍ بَعَثَ أَبَا عَامِرٍ عَلَى جَيْشٍ إِلَى أَوْطَاسٍ … فَدَعَا بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ

Artinya: ketika Nabi selesai perang Hunain, beliau mengutus Amir dan pasukannya ke Authos maka nabi meminta air lalu wudhu, lalu mengangkat tangan seraya beroda

: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنَ النَّاسِ فَقُلْتُ وَلِي فَاسْتَغْفِرْ فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِاللهِ بْنِ قَيْسٍ ذَنْبَهُ وَأَدْخِلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُدْخَلاً كَرِيمً
[Hadis ini shahih di dalam sanadnya tidak ada kecacatan]

Rabu, 05 Agustus 2015

Jumlah Lafadz Takbir pada Iqomah

By Hafidh vdunz | At 07.43 | Label : , | 0 Comments
Orang yang mengucapkan takbir [اَللّٰهُ أَكْبَر] di dalam iqomah itu berbeda-beda, ada yang mengucapkan satu kali takbir[اَللّٰهُ أَكْبَر], ada juga yang mengucapkan dua kali takbir [اَللّٰهُ أَكْبَر]. Dan seharusnya yang benar itu yang mana? Apakah yang satu kali takbir atau dua kali? Insyaallah di dalam artikel ini akan dibahas mengenai "Jumlah Mengucapkan Lafadz Takbir [اَللّٰهُ أَكْبَر] di dalam Iqomah".

Dalil-dalil Mengenai Iqomah
1. Dalam hadis riwayat imam hakim, yang diterima dari sahabat abu hurairoh, diterangkan seperti ini:

أَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ  أَبَا مَحْذُوْرَةَ أَنْ يَشْفَعَ الأَذَانَ وَيُوْتِرَ الإِقَامَةَ

Artinya : Telah memerintah Rosululloh kepada abi mahdzuroh supaya menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqomah.

2. Adapun di dalam riwayat imam dharuqutni diterangkan seperti ini:

وَأَمَرَهُ أَنْ يُقِيْمَ وَاحِدَةً وَاحِدَةً

Artinya : Dan beliau memerintahkan supaya iqomah sekali-sekali .

3. Adapun di dalam riwayat imam abu nu'aim diterangkan bahwasanya lafadz iqomah itu dua kali-dua kali, kecuali lafadz "حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ" dan lafadz حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ juga lafadz لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ  diucapkannya sekali:

وَالإِقَامَةُ مَثْنَى اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Artinya : Dan dalam iqomah itu dua kali-dua kali : Allohu akbar- Allohu akbar, Asyhadu alla illaha illalloh-Asyhadu alla illaha illalloh, Asyhadu anna muhammadar rosululloh-Asyhadu anna muhammadar rosululloh, Hayya ‘alas shalah , Hayya ‘alal falah, Qodqomatisshalah-qodqomatisshalah, Allohu akbar-allohu akbar, Lailaha illalloh.

4. Adapun di dalam riwayat imam ibnu hibban dan imam ibnul jarud diterangkan sesungguhnya jumlah lafadz iqomah itu dua kali-dua kali kecuali lafadz takbir[اللهُ أَكْبَرُ] diucapkannya 4 kali :

أَنَّ أَبَا مَحْذُورَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ  عَلَّمَهُ الإِقَامَةَ سَبْعَ عَشَرَةَ كَلِمَةٍ ......  اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Artinya : Sesungguhnya abi mahdzuroh telah diberi tahu kepadanya sesungguhnya Rasulullah mengajarkan kepadanya iqomah itu 17 kalimah.....  Allohu akbar-allohu akbar, Allohu akbar-allohu akbar, syhadu alla illaha illalloh-Asyhadu alla illaha illalloh, Asyhadu anna muhammadar rosululloh-Asyhadu anna muhammadar rosululloh, Hayya ‘alas shalah-Hayya ‘alas shalah, Hayya ‘alal falah-Hayya ‘alal falah, Qodqomatisshalah-qodqomatisshalah, Allohu akbar-allohu akbar, Lailaha illalloh.

5. Adapun di dalam riwayat Imam Baihaqqi disebutan sasungguhnya jumlah takbir di dalam iqomah itu dua kali :

عَنْ أَبِي مَحْذُوْرَةَ قَالَ:  وَعَلَّمَنِي النَّبِيُ,  الإِقَامَةَ مَرَّتَيْنِ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أِكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

Artinya : Diterima dari abi mahdzuroh berkata: Nabi mengajarkan kepada saya, iqomah itu sebanyak dua kali Allohu akbar- Allohu akbar, Asyhadu alla illaha illalloh, Asyhadu anna muhammadar rosululloh, Hayya ‘alas shalah , Hayya ‘alal falah, Qodqomatisshalah-qodqomatisshalah, Allohu akbar-allohu akbar, Lailaha illalloh.

6. Adapun di dalam riwayat Al-jamaah, Baihaqqi, ibnu hibban, ibnu khuzaemah, ibnul jarud, jeung abu awanah diterangkan seperti ini:

عَنْ أَبِيْ قِلاَبَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَتِ الصَّلاَةُ إِذَا حَضَرَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- سَعَى رَجُلٌ فِي الطَّرِيْقِ فَنَادَى الصَّلاَةُ الصَّلاَةُ فَاشْتَدَّ ذلِكَ عَلَى النَّاسِ فَقَالُوْا: لَوِ اتَّخَذْنَا نَاقُوْسًا يَا رَسُوْلَ اللهِ فَقَالَ: ذلِكَ لِلنَّصَارَى فَقَالُوْا: لَوِ اتَّخَذْنَا بُوْقًا قَالَ: ذلِكَ لِلْيَهُوْدِ قَالَ فَأُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَ الأَذَانَ وَيُوْتِرَ الإِقَامَةَ

Artinya : Diterima dari qilabah, dari anas berkata: Dizaman Rasulullah, jika datang waktu shalat seseorang berjalan seraya berseru: ash-sholah ash-sholah. Hal ini terasa berat oleh orang-orang, maka Anas mengusulkan: Bagaimana kalau kita menggunakan lonceng wahai Rasulullah? maka Rasulullah bersabda: lonceng itu untuk kaum nasrani, dan ada juga yang mengusulkan, bagaimana kalau menggunakan terompet? maka Rasulullah bersabda: terompet itu untuk kaum yahudi, Anas berkata : maka bilal diparintah supaya menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqomah.

7. Adapun di dalam riwayat imam ibnu khuzaemah diterangkan seperti in:

فَأُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَ الأَذَانَ وَيُوْتِرَ الإِقَامَةَ إِلاَّ قَوْلَهُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ


Artinya: maka bilal diparintah untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqomah, kecuali lafadz Qodqomatisshalah-qodqomatisshalah.

8. Adapun di dalam hadis riwayat imam ahmad, abu dawud, nasa'i, ibnu hibban, dan hakim diterangkan seperti ini:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : اِنَّمَا كَانَ الاَذَانُ عَلَى عَهْدِ رَسُو لِ اللهِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ وَالاِقَامَةُ مَرَّةً مَرَّةً غَيْرَ اَنَّهُ يَقُولُ : قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ وَ كُنَّا اِذَا سَمِعْنَا الاِقَامَةَ نَتَوَضَأُ ثُمَّ خَرَجْنَا اِلَى الصَّلاَةِ .

Artinya: diterima dari sahabat ibnu umar, ia berkata : Sesungguhnya adzan di zaman rosululloh dua kali-dua kali, dan iqomah sekali-sekali. kecuali lafadz Qodqomatisshalah-qodqomatisshalah, dan kami jika mendengar iqomah kami wudhu dan kami shalat.

9. Adapun di dalam riwayat baehaqqi diterangkan :

كَانَ الأَذَانُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ - مَثْنَى مَثْنَى وَالإِقَامَةُ فُرَادًى

Artinya : Keadaan adzan di zaman Rasulullah dua kali-dua kali dan iqomah sekali

10. Adapun di dalam riwayat imam dharuqutni dijelaskan :

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ قَالَ: كَانَ الأَذَانُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ  مَثْنَى مَثْنَى وَالإِقَامَةُ فَرْدًا

Artinya: Dari salamah bin akwa' berkata: adzan di zaman Rasulullah dua kali-dua kali dan iqomah sekali.

11. Adapun di dalam hadits yang diterima dari abi awanah diterangkan :

كَانَ الأَذَانُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ مَثْنَى مَثْنَى وَالإِقَامَةُ مَرَّةً مَرَّةً غَيْرَ أَنَّ الْمُؤَذِنَ إِذَا قَالَ: قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَالَ مَرَّتَيْنِ

Artinya: Adzan di zaman Rasulullah dua kali-dua kali dan iqomah sekali-sekali, ketika muadzin mengucapkan kalimah Qodqomatisshalah dua kali.

Melihat keterangan diatas, Imam Al-Bukhori membuat dua bab yang berjudul :
1. Bab Iqomah Sekali Kecuali Lafadz Qodqomatisshalah [باب الإِقَامَةُ وَاحِدَةٌ إِلاَّ قَوْلَهُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ]
2. Bab Adzan Dua Kali-Dua Kali [بَابٌ اَلأِذَانُ مَثْنَى مَثْنىَ]

Kesimpulan :
1. Apabila dilihat dari aspek riwayat iqomah dengan lafadz Takbir sakali itu lebih kuat kedudukannya

2. Apabila dilihat daro aspek pengamalan iqomah bisa dilakukan dengan lafadz Takbir  sekali, juga bisa dilakukan dengan lafadz Takbir dua kali

Kamis, 30 Juli 2015

Teruntuk Pilihan Hidup

By Hafidh vdunz | At 03.03 | Label : | 0 Comments
Assalamu'alaikum..
Untukmu yg kini menjadi pilihan hidupku..

Wahai engkau..
Kini kusadari,.

Bisa atau Tidak tentu harus bisa..
Karena aku telah memutuskan untuk hidup bersamamu..
Kini pengorbanan akan kembali ku ukir, bukankah "cinta butuh pengorbanan"??

Melati yang indah dan harum baunya kan layu dan busuk saat tak ada yang menyirami dan merawatnya dengan mengorbankan waktu hanya untuk menjaga agar tetap harum berkesinambungan..
Itulah tugasku untukmu, melati harumku..
Aku padamu..
Bak pengemudi di tengah kemacetan ..
Bila aku mundur maka aku mencelakakan diriku dan orglain..
Bila aku maju tentulah perlu kehati-hatian agar aku terjaga..

Teringat komitmenku padamu .
Aku tak boleh melihat seorang yang bukan hakku yang menyebabkanku lupa padamu .
Aku harus selalu mengulang pengajaranmu agar kuatku mengingatmu.
Aku harus selalu di dekatmu hingga menghadap TuhanMu.

Dan kau berjanji takkan menyalahi janjimu..

Kau kan menjagaku dari penyiksaan..
Kau kan mengutuhkan jasadku sebagaimana para syuhada..
Kau berjanji dg mahkota SyurgaNya..
Dan janji akan ridhoNya dg luasnya syafaat saat neraka tengah merapat..
Ku percaya kau tak dusta, kan kudapati bila

 "Aku mencintaimu karenaNya"

          Teruntuk : Kitabullah "AlQur'anul Kariem"






Rabu, 29 Juli 2015

Kisah Sahabat

By Hafidh vdunz | At 21.12 | Label : , | 0 Comments

Umar Ibnul Khattab ra  adalah sahabat kepercayaan Nabi saw yang sekaligus juga  salah seorang  mertua  Nabi saw . Putrinya yang bernama Hafsah ra adalah salah seorang istri Nabi saw.  Umar  mendapat julukan “ Al-Faruq “ yang artinya “ Pembeda atau pemisah “ yakni orang yang bisa dan punya komitmen untuk memisahkan antara yang hak dan batil.   Umar juga merupakan sosok yang mukhlis, sekaligus tegas dalam mempertahankan al-haq.  Nabi saw. juga pernah memberikan beberapa penilaian dan pujian kepadanya dengan menyatakan :  “  Sesungguhnya Allah telah menyimpan kebenaran pada lidah Umar. “  Dalam kesempatan lainnya Nabi saw bersabda :  “  Jika  Umar masuk ke sebuah gang, maka syetan lari masuk ke gang yang lainnya. “  Ini menunjukkan bahwa Umar adalah seorang muslim yang mukhlis, orang yang selalu ikhlas dalam beramal. Orang Mukhlis memang ditakuti oleh syetan, seperti dijelaskan Allah swt dalam firman-Nya :   Iblis berkata : “  Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik ( perbuatan maksiat ) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka “ ( QS. Al-Hijir : 39-40 ).

Dalam hadits riwayat imam Al-Bukhari diriwayatkan bahwa tiga buah usulan Umar ibnul Khattab ra  kepada Nabi saw  diperkuat  oleh wahyu Allah swt.atau menjadi asbabun nuzul beberapa ayat kepada Nabi saw . Usulan pertama, Umar mengusulkan agar Maqam Ibrahim dijadikan mushalla ( tempat shalat ), tidak lama kemudian turun firman Allah swt  :  “ Dan jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat “ (QS.Al-Baqarah : 125 ). Usulan kedua, Mengingat yang bertamu ke rumah Nabi saw bukan hanya orang-orang  baik-baik, tapi juga orang-orang jahat, Umar usul agar istri-istri Nabi memakai hijab,  turunlah  QS. Al-Ahzab  : 53 . Usulan ketiga,  Ketika istri-istri Nabi saw mengajukan semacam tuntutan akan kondisi kehidupan keluarga Nabi, para istri Nabi saw mungkin melihat kebiasaan para istri pemimpin yang hidupnya  senang, bahkan mewah. Maka yang “ marah “  atas keinginan para sitri Nabi saw  ini adalah Umar, karena disana ada putrinya – Hafsah. Umar berkata : “ bagaimana jika Allah menyuruh Nabi mencerai kalian, dan menggantinya dengan wanita-wanita yang lebih baik. “ Maka turunlah kepada Nabi saw  :  “ Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari pada kamu, yang patuh, yang beriman, yang ta’at, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang shaum, yang janda dan yang perawan.” (QS.At-Tahrim : 5 )

Sementara Abu Musa Al-‘Asy’ary  yang nama aslinya  Abdullah bin Qeis ra  adalah salah seorang sahabat kepercayaan dan kesayangan Nabi saw, juga menjadi kepercayaan dan kesayangan para khalifah dan sahabat-sahabatnya. Semasa Nabi saw masih hidup  Abu Musa diangkat bersama Muadz bin Jabal sebagai penguasa di Yaman.  Sepeninggal Nabi saw. Abu Musa kembali mukim di Madinah, dan bergabung dalam pasukan kaum muslimin  menghadapi pasukan Persia dan Romawi.  Pada Masa Khalifah Umar, Abu Musa diangkat menjadi gubernur di Bashrah.  Khalifah Utsman  juga mengangkatnya sebagai gubernur di Kuffah. 

Suatu ketika Khalifah Umar ibnul Khattab mengundang Abu Musa untuk datang di rumahnya.  Abu Musa pun memenuhi undangan tersebut. Sesampai di pintu rumah khalifah Umar, Abu Musa mengucapkan salam seperti yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. ( QS. An-Nur : 27 )  Abu Musa  mengucapkan salam tiga kali, tapi tidak ada yang menjawab salamnya itu, mungkin karena suara Abu Musa yang kurang keras, sehingga tidak terdengar oleh penghuni rumah khalifah Umar.  Maka Abu Musapun  pulang kembali ke rumahnya. 

Setelah khalifah Umar menunggu lama, dan Abu Musa tidak muncul juga, maka khalifah Umar mengutus orang untuk menyusulnya. Ketika Abu Musa datang,  khlaifah Umar menegurnya : “ Kenapa engkau tidak mau datang memenuhi undanganku ? “  Abu Musa menjelaskan  : “ Saya tadi sudah datang kemari, dan saya telah mengucap salam tiga kali, tapi tidak ada yang menjawab salam saya, maka sesuai dengan sabda Nabi  saw. yang menyatakan bahwa jika kamu  mau bertamu, lalu kamu mengucap salam tiga kali, dan tidak ada yang menjawabnya, maka kamu harus kembali. Ya, saya balik lagi ke rumah. “ Khalifah Umar rupanya kaget dengan keterangan Abu Musa, karena Umar belum pernah mendengar ada sabda Nabi saw seperti itu, lalu bertanya : “ Benarkah perkataanmu itu wahai Abu Musa, kok, aku belum pernah mendengarnya?  Jika engkau benar tolong hadirkan kepadaku  saksinya. “ 
Dengan hati sedikit waswas Abu Musa meninggalkan rumah khalifah Umar, Abu Musa tidak ingat lagi siapa sahabat yang hadir ketika Nabi saw menyampaikan ketentuan itu. Maklum peristiwanya terjadi beberapa tahun silam, sudah melewati masa khilafah Abu Bakar ra.  Kemudian Abu Musa mencoba menemui beberapa sahabat yang masih hidup, tapi semua sahabat yang ditemuinya mengaku tidak hadir pada peristiwa itu. Hati Abu Musa semakin waswas, sebab jika tidak diketemukan saksi, Ia kawatir oleh khalifah Umar dituduh telah berdusta atas nama Nabi saw. Hingga akhirnya bertemu dengan Abu Sa’id al-Khudzri yang menyatakan bahwa dirinya hadir pada peristiwa itu, kemudian keduanya menghadap kepada khalifah Umar dan menjelaskan kebenaran sabda Nabi saw tersebut.  Barulah  baik Umar maupun Abu Musa tentram dengan kesaksiannya itu. 

Dari kisah di atas, ada beberapa ‘ibrah atau pelajaran yang bisa kita petik, antara lain : Pertama,  Jika kita ingin menjadi manusia yang ditakuti syetan, sehingga syetan tidak berani menggoda dan menjerumuskan kita kedalam lembah dosa dan kehinaan, maka jadilah orang yang mukhlis.   Kedua,  Jika kita mau bertamu ke rumah orang,  kita diperintahkan mengucap salam, dan jika sudah tiga kali mengucap salam tidak ada yang menyahut atau menjawabnya, hendaklah kita pulang.  Ketiga, Kita harus berhati-hati  dalam menggunakan hadits, karena di samping ada hadits-hadits yang sahih, banyak pula yang dla’if  bahkan hadits mau’dlu atau hadits palsu. Jangan asal bahasa Arab, apalagi diawali dengan kalimat “qala Nabi saw “        ( Nabi saw bersabda ) tanpa jelas rawi dan sanadnya , kemudian  dianggap hadits. Ini bisa menimbulkan masalah yang serius dalam urusan agama. Wallahu’alam

Bahaya Orang yang Sholat

By Hafidh vdunz | At 00.35 | Label : , | 0 Comments


Sudah kita ketahui umat Islam di seluruh dunia tak asing lagi dengan ibadah sholat. Mereka tiap hari melaksanakan sholat sebanyak 5 waktu, mereka telah dibina dan dididik dari sejak kecil untuk mengenal ajaran agamanya. Tapi apa yang terjadi ketika kesibukkan menimpa mereka? Mereka seakan tak peduli dengan ibadahnya. Mereka asik dengan pekerjaannya tanpa memikirkan kewajibannya, sekalipun ingat akan kewajiban itu pasti mereka mengakhirkan sholat setelah pekerjaan selesai. Mereka rasa itu hal yang biasa. Tanpa mereka sadari hal itulah yang membuat diri mereka terancam bahaya.

Selasa, 28 Juli 2015

Air Hangat Yang Sangat Mujarab

By Hafidh vdunz | At 17.18 | Label : , | 0 Comments
Air Hangat yang Sangat Mujarab


Sudah menjadi suatu kebiasaan dan sangat lumrah bagi masyarakat Indonesia, apabila di pagi hari minum kopi atau teh hangat. Hal itu memang enak dirasakan ketika udara dingin ditemani dengan secangkir kopi atau teh hangat. Ini mungkin akan menambah stamina Anda di pagi hari, namun kopi dan teh pada dasarnya membuat Anda menjadi lupa minum air putih hangat, yang sebenarnya air putih hangat lebih menakjubkan bagi tubuh Anda.

Senin, 27 Juli 2015

Pertanda Kematian Akan Datang

By Hafidh vdunz | At 20.36 | Label : | 0 Comments
Pertanda kematian akan datang



Suatu peristiwa yang tak akan bisa dihindari, itulah kematian. Suatu jalan menuju akhirat kelak yang akan membawa manusia ke kehidupan yang hakiki, kehidupan yang abadi didalamnya dan akan menentukan apakah seseorang itu mendapat kenikmatan ataukah siksaan. Semua manusia mempertaruhkan apa yang mereka lakukan saat didunia. Tak mudah memang memprediksikan secara tepat kapan seseorang akan meninggal apalagi sampai memperkirakan amal-amalnya apakah seseorang masuk syurga atau masuk neraka. Dan kematian itu sendiri bisa disebabkan sakit, kecelakaan atau sebab lainnya.

Pada kondisi normal seperti orang sakit biasanya seseorang akan menunjukkan gejala yang mengindikasikan bahwa hidupnya akan segera berakhir beberapa minggu lagi seperti dikutip dari Mayoclinic yaitu:

1. Merasa gelisah.
Seseorang akan merasa tidak tenang serta sulit tidur, selain itu dia akan seringkali mengganti posisi saat tidur karena perasaan gelisah.

2. Menarik diri.
Seseorang tidak ingin lagi terlibat dalam aktifitas sosial ataupun melakukan kegiatan favoritnya.

3. Sering mengantuk.
Seseorang akan menghabiskan lebih banyak waktunya untuk tidur.

4. Kehilangan nafsu makan.
Seseorang hanya akan makan dan minum dalam jumlah sedikit dan berbeda dari biasanya.

5. Mengalami jeda saat bernapas.
Hal ini biasanya terjadi saat seseorang sedang tidur ataupun terjaga.

6. Luka yang sulit sembuh.
Luka atau infeksi yang dialami mengalami kesulitan untuk disembuhkan.

7. Pembengkakan.
Pada beberapa orang terjadi pembengkakan di daerah tangan, kaki atau bagian tubuh lain.


Proses sekarat mulai terjadi ketika tubuh tidak bisa mendapatkan asupan oksigen yang diperlukan untuk bisa bertahan hidup. Sel yang berbeda akan memiliki kecepatan kematian yang berbeda pula, sehingga panjangnya proses seseorang sekarat tergantung pada sel-sel yang kekurangan oksigen ini.
Sedangkan otak memerlukan oksigen dalam jumlah yang besar dan hanya memiliki sedikit oksigen cadangan. Sehingga jika asupan oksigen berkurang maka akan mengakibatkan kematian sel dalam waktu 3-7 menit saja.

Beberapa tanda yang ditunjukkan oleh orang yang sekarat adalah lebih banyak tidur, hal ini untuk menghemat energi yang tinggal tersisa sedikit di tubuh. Ketika energi tersebut hilang, maka seseorang akan kehilangan nafsu untuk makan ataupun minum. Proses menelan pun menjadi sulit dan mulut akan sangat kering, sehingga memaksa orang yang sekarat untuk minum akan membuatnya tersedak.

Selain itu orang yang sekarat akan kehilangan kontrol pada kandung kemih dan ususnya, sehingga seringkali terlihat mengompol. Orang akan merasa bingung, gelisah dan tidak tenang karena tidak dapat bernapas dengan teratur. Ketika sel-sel di dalam tubuh mulai kehilangan sambungan, maka akan mengalami kejang otot.

Kematian akan semakin mendekat jika kaki dan tangan terasa dingin dan mulai sedikit membiru akibat terhentinya aliran darah ke daerah tersebut. Tapi lama-kelamaan akan semakin menyebar ke bagian tubuh atas seperti lengan, bibir dan kuku. Selain itu orang menjadi tidak responsif, meskipun matanya terbuka tapi memiliki tatapan mata kosong atau tidak melihat sekelilingnya.

Setelah itu pernapasan akan terhenti sama sekali dan diikuti oleh berhentinya kerja jantung, maka secara klinis orang tersebut sudah mati karena tidak ada sirkulasi dan cadangan oksigen untuk bisa mencapai sel-sel di tubuh. Namun kematian klinis bisa dikembalikan melalui proses CPR (napas bantuan), transfusi atau ventilator. Tapi jika 4-6 menit setelah kematian klinis tidak ada perubahan, maka itu artinya jantung sudah tidak bisa bekerja lagi.

Karena jantung sudah tidak bekerja, maka secara otomatis aliran darah dan oksigen ke seluruh tubuh dan otak juga akan terhenti. Akibat tidak adanya asupan oksigen dan darah ke otak, maka dalam hitungan beberapa detik otak juga akan mati dan disitulah akhir dari perjalanan hidup seorang manusia.

Semua kehendak Tuhan, kita hanya bisa berpasrah diri untuk kehidupan yang seperti fatamorgana ini. Wallahu a’lam bi showab.

Rabu, 08 Oktober 2014

sunrise in cileunca lake

By Hafidh vdunz | At 00.52 | Label : | 0 Comments


  07 oktober 2014


Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. e-Dakwah al-Hafizh - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz