Jumat, 28 Februari 2014

3 Hal Yang Tak Bisa Terulang Dalam Kehidupan

By Hafidh vdunz | At 16.55 | Label : | 0 Comments
3 HAL YANG TAK BISA TERULANG DALAM KEHIDUPAN

By: Hafidh Fadhlurrohman

Sudah sepatutnya manusia hidup itu mempunyai suatu tujuan yang tepat, tanpa itu manusia akan hidup sia-sia tak karuan. Memang benar, ada orang mengatakan ”hiduplah semaumu didunia ini” tapi saya menggaris bawahi dalam hal ini seyogianya manusia hidup dengan pedoman yang tepat dan pondasi yang kuat.

Pedoman itu telah diberikan oleh Sang Maha Pencipta dari abad yang lalu kepada manusia terbaiki didunia ini, ya tepat sekali pedoman itu adalah Al-Qur’an. Ketika manusia hidup berdasarkan asas-asas yang tercantum dalam kitab suci ini, pasti hidupnya akan bahagia baik didunia maupun di akhirat. Berat memang gerak gerik kita berlandaskan hal ini, tapi itulah perjuangan. Orang yang hebat tidak terbentuk dari hal yang mudah, mereka terbentuk dari hal yang sulit, bergelimangan air mata tapi diujung hayatnya mereka tertawa ria melihat semua hasil jerih payahnya.

Lalu, apakah tujuan hidup kita? Kemana kita akan pergi?

Pertanyaan seperti itu tak bosan-bosannya terlontar dari mulut kita, kita lihat apa yang termaktub didalam kitab suci Al-Qur’an. Didalamnya dikatakan bahwa Allah menciptakan jin dan manusia tiada lain hanya untuk beribadah kepada-Nya. Nah, itulah tujuan hidup yang tepat. 

Ketika kita mencapai titik akhir dari hidup kita, pasti akan terdapat tempat yang kita akan tempati selanjutnya. Kalau kita hidup bergelimang pahala tentunya kita akan bertempat di syurga yang penuh dengan kenikmatan, juga sebaliknya ketika hidup kita didunia berlumurah dosa dan tak sempat untuk bertaubat tentulah Allah pun akan menempatkan diri kita dineraka penuh dengan api panas.

Lalu.. apa yang gak bisa terulang di kehidupan kita?

Menurut perspektif pribadi, ada 3 hal yang tak bisa terulang kembali di kehidupan ini. Yakni:

Waktu (masa lalu)

Imam Al-Ghazali mengategorikan bahwa waktu atau masa lalu sebagai sesuatu yang paling jauh dari kita. Dan memang terbukti, satu detik satu menit satu jam yang lalu tak akan bisa diulangi oleh kita. Maka tak heran Allah sangat menitik beratkan terhadap waktu, sampai-sampai Allah menurukan wahyu banyak yang berkenaan dengan waktu.

Ucapan

Rasulullah Saw pernah bersabda “muslim itu adalah orang yang bisa menyelamatkan muslim lainnya dari lisan dan tangannya”. Ini menunjukan bahwa lisan itu sangat berbahaya. Ketika seseorang melontarkan ucapan, maka ucapan itu tak bisa ditarik kembali. Dan hal ini adalah salah satu yang tak bisa terulang kembali.

Kesempatan

Kesempatan adalah salah satu hal yang tak bisa terulang kembali. Kita hidup didunia hanya sekali, maka kesempatan untuk hidup dengan benar hanya sekali ketika kita sudah berada di akhirat maka kesempatan tak akan diberikan lagi. Maka gunakanlah kesempatan itu sebaik mungkin.

Sobat.. kita semua adalah pengembara didunia, dan suatu hari nanti kita akan kembali ke tempat asal kita. Mengembaralah didunia ini sebagai pengembara terbaik sobat. 

Selasa, 31 Desember 2013

Esok

By Hafidh vdunz | At 16.57 | Label : | 0 Comments

Pagi itu, mataku terbangun dengan suara keras alarm handphone di atas meja. Segera kuambil air wudhu dilanjut sholat shubuh di gubuk kecil itu. Usai sholat, anganku terbang seketika. Mencoba menyusun kata dan sikap apa yang harus ku persembahkan untuk mereka.
Ku ambil secarik kertas dan sebuah pena bertinta hitam. Perlahan, kutarik satu persatu kata yang berlalu-lalang di dalam pikiranku. Dengan harapan, meskipun tak dapat ku pandang mereka dalam waktu panjang, mereka tetap bisa merasakan kehadiranku dan kerinduan yang begitu mendalam.
Sudah lama aku tak berjumpa dengan dua sahabatku itu. Bahkan berbulan-bulan aku tak dapat menemuinya dengan berjuta kehangatan. Hingga akhirnya dapat kutemui satu waktu dimana Allah memberiku luang untuk berjumpa.
Kubayangkan puluhan kisah indah dalam tangis, bahkan tawa bersama mereka satu tahun yang lalu, tepat di enam bulan pertemuan kami. Sebelum akhirnya, takdir bawaku pergi dan beranjak tinggalkan mereka. Dengan entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu. Tega membuat mereka jatuh menangis dan berlari menahan langkah ini agar aku dapat berpikir ulang. Namun kuabaikan dengan mudah.
Sungguh, betapa kejamnya diri ini. Sahabat yang begitu lekat. Kawan yang begitu penyayang. Kusia-siakan begitu saja.
Dan inilah hari dimana aku dapat memeluknya dengan berjuta asa dan tawa bahagia.
Segera ku siapkan diri. Kupakai baju putih panjang dipadu rok berwarna coklat muda dan kerudung putih bercorak. Senyumku nampak mengembang di depan cermin. Dan berdo’a, semoga hari ini dapat kupenuhi janjiku.
”bu, berangkat.. Assalammu’alaikum.” ucapku sambil menutup pintu rumah.
Berdiri menunggu angkutan umum cukup selalu membuat kakiku pegal, dan pagi itu aku dipaksa menunggu cukup lama. Perlu tiga kali naik angkutan umum untuk dapat sampai kesana. Dan kuputuskan, untuk mampir sebentar membeli buah tangan untuk mereka sebagai teman sepucuk surat yang sudah kusiapkan sebelumnya. Lalu melanjutkan perjalanan. Di sepanjang perjalanan, aku tak henti membayangkan kebahagiaan apa yang akan terjadi. Hingga tak sadar, tinggal beberepa meter lagi aku sampai.
Mobil menepi dan aku segera turun dengan tak lupa memberikan ongkos.
Kakiku melangkah dengan pasti. Dengan bahagia. Bahkan langkah yang cepat dan tak sabar ingin segera berjumpa.
Nampaknya aku sedikit terlambat. Acara sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Segera saja aku duduk di kursi paling belakang. Menatap puluhan orang yang khusyu mengikuti acara. Suasana begitu hening. Dan itu yang selalu aku sukai dari tempat itu.
Tenang, dan nyaman.
Tak lama, acara selesai. Betapa bangganya hatiku, dapat segera memeluk erat raga mereka.
Banyak adik adikku yang datang mendekat. Mencoba bersenda gurau melepas rindu yang tercipta karena batasan ruang.
ukhtii, tebak siapa ana? Masih ingat kan?”
ukhtii, kenapa jarang balas smsnya? Nomber antum masih aktif?”
ukhtii, ada salam....”
Begitu banyak ucapan mereka yang dapat telingaku tangkap dengan baik. Tapi, mataku belum sempat melihat mereka dengan banyaknya orang yang berkerumun.
”mana ukhtii Silmi?” tanyaku segera.
”itu..” jawab seseorang disampingku. Segera dia memanggilkannya untukku.
ukhtii Silmi!” teriaknya. Dengan spontan gadis itu berbalik dan tersenyum lebar menatapku. Hanya saja, saat itu kurasakan sesuatu yang aneh.
Widi menarik lenganku dan menemaniku menepi ke depan koperasi.
Aku bingung, wajah mereka tak seceria biasanya. Aku tak henti berlalu lalang mencari sesuatu yang kurasa hilang. Tapi apa? Tak kutemui jawabnya.
”Silmi mana?” tanyaku lagi. ”tuh di sana” jawab Nur. Tak segera ku hampiri raganya. Sengaja kucari waktu yang tepat. ”Nis, chacil...” ucap seseorang di depanku. Segera ku berbalik dan lihat gadis itu. Dipeluk seseorang dengan air mata yang mengalir.
Mengapa? Beribu tanya hadir dalam benakku. Dan tetap saja tak kutemukan jawabnya.
Segera ku hampiri. Membuka sedikit celah dari kerudungnya dan memastikannya tak menangis. Namun aku salah. Matanya begitu merah dan air mata menggenangi wajah mungilnya.
”kenapa??” tanyaku lirih. Sahabatku itu hanya diam menatapku dengan tak lama merangkul ragaku erat. Aku semakin tak mengerti. Ada sesuatu yang tidak beres pagi itu.
”Cil, kenapa? Tak biasanya kau menangis seperti ini..” tanyaku lagi dan lagi.
”terbawa suasana.” jawabnya singkat.
Apa ini? Suasana apa? Rasanya langitpun tak restui kehadiranku.
Nur menarikku duduk di serambi masjid.
”Nur, sebenarnya ada apa?”
”sebenarnya ada peraturan yang melarang kami berbicara bahkan mengobrol dengan orang lain. Sejak kejadian itu terjadi.. entahlah” jawabnya.
Aku bingung, tak kuasa menahan tangis. Aku sangat sangat merasa bersalah dengan semua yang terjadi. Apa kehadiran ini adanya menjadi sebuah musibah bukannya hadiah? Ah Rabb. Aku tak mengerti. Rasanya jutaan rindu jatuh, pecah dan hilang bukan terbayar pertemuan. Tapi terbayar sesak yang teramat sakit.
Bukan karena merasa terasingkan. Tapi pikiranku jauh memandang nanti. Bisakah kutahan rindu begitu lama untuk kedua sahabatku itu? Bisakah kutahan rasa cemburu melihat kedua sahabatku itu lebih dekat dengan orang lain? Lantas bisakah ku biarkan mereka menjauh? Bisakah Rabb?
Aku tak kuasa. Aku tak kuasa membiarkan mereka begitu saja tanpa sebuah kabar. Aku rindu dengan semua kedekatan itu. Tapi aku tak bisa pentingkan ego. Aku juga inginkan sebuah ketenangan bagi mereka yang hendak mengabdi.
Aku diam mematung. Tak bisa ungkapkan sepatah katapun. Suasana tetap hening. Tak ada tawa sedikitpun. Hanya tetes air mata ditengah diamnya lidah selimuti diri ini.
Ku tatap perlahan wajahnya. Ku coba mengingat jelas raut wajahnya. Untuk waktu lama yang tak bisa ku dapati lagi.
Mataku tetap tak melihat Silmi, satu dari dua sahabatku selain Chacil.
”di sana.” ucap Asni dengan menunjuk satu tempat. Aku hanya mengangguk dalam diam.
Mataku beberapa kali berputar memandang tempat itu dari serambi masjid. Namun tetap tak dapat kulihat wajahnya dengan jelas.
Kuambil sebuah buku kecil dari dalam tas hitamku. Kutulis beberapa bait permohonan maaf yang mendalam kepada kedua sahabatku. Bila adanya diriku, tak membuat semua menjadi lebih baik. Ku robek dan melipatnya dengan rapi, seperti lipatan apa yang pernah diajarkan dua sahabatku itu pada diri ini. Segera ku sodorkan kertas itu tepat dihadapan Chacil kawanku, disertai senyum tipis yang ku ukir.
Kupinjam buku kecil yang sedari tadi dipegangnya. Segera ku tulis pula rangkaian kata rindu dan penyemangat mereka.
”Selamat Berjuang” ucapku.
Sesekali air mataku menetes seberapa kuatpun aku menahannya.
waktu berlalu dalam hening. Silmi beranjak dengan tundukan kepala bersama beberapa orang lain yang juga berlalu dari tempat duduk.
”Silmi, itu..” ucap seseorang yang samar terdengar telingaku. Silmi menatapku dengan tangisan yang sama, ketika dia menangis untukku saat aku pergi.
Aku tak peduli. Aku tak memandang wajahnya sedikitpun, seberapapun aku menginginkannya. Aku tak sanggup melihat tangisnya. Aku tak sanggup melihat wajahnya meskipun sebagai kenangan di esok hari. Aku tetap menunduk dan lanjutkan menulis dalam buku kecil Chacil tanpa menghiraukan kehadirannya.
Sebisa diri kutahan air mata. Namun serangan mereka terlalu kuat. Aku menangis dalam tundukan kepala tanpa keluarkan suara sedikitpun. Aku tak ingin dia tahu aku menangis. Kusembunyikan namun tetap saja tak membuatku merasa tegar. Dia duduk disampingku beberapa detik. Dan selanjutnya memeluk ragaku erat dengan suara yang mendesah. Aku tetap tak hiraukannya. Aku menunduk tak membalas pelukannya.
Aku tak pernah menginginkan sebuah perpisahan. Sesak rasanya aku melepas kedua sahabatku.
”Nisaa... maaf....” ucapnya lirih. Aku tak kuasa menjawab setiap ucapannya. Semua hanya membuatku lebih sakit lagi.
Perlahan dia melepas pelukannya. Berdiri dan berlalu meninggalkanku dengan tangis yang masih melekat.
Aku pahami itu kawan. Karena akupun tak kuasa melepas kalian berdua.
Seiring berlalunya Silmi dari pandanganku. Segera ku pandang wajah Chacil dihadapanku.
”Cil, sini. Ada sesuatu tapi masih banyak orang” ucapku.
”Ya sudah, mau pulang? Yuk dianter sampe depan” jawabnya.
Aku hanya mengangguk dan segera berjalan.
”apa Nis? ” tanyanya segera. Aku diam tak menjawabnya. Segera ku buka tasku dan ku ambil sepucuk surat yang sengaja ku buat tadi pagi sebelum menemui mereka, ditemani sebuah bingkisan kecil. Biru untuk Chacil, dan kuning bergambar monyet lucu untuk Silmi.
”nih, buat anti sama Silmi” lanjutku.
Tak lama, kulihat air mata Chacil jatuh dengan pelukan erat memeluk ragaku untuk kesekian kalinya.
Aku tak bisa mendengar jelas apa yang diucapkan untuk terakhir kalinya padaku. Isak tangisnya terlalu bergema dalam ruang jiwaku.
”Sukses buat ke Gontor nya.. jaga diri baik-baik.. dan jadi pemimpin yang baik” ucapku untuk sebuah kalimat perpisahan.
Sungguh, hatiku kacau dibuatnya.
”maaf” ucapku sambil berlalu tinggalkannya.
Dalam perjalanan pulang, kubaca sepucuk surat yang sempat Silmi beri lewat Asni padaku.

Bismillahirrahmanirrahiim...
Assalammu’alaikum..
Annisa, apa kabar? :’)
Sungguh, betapa senangnya hati ini melihat lagi wajah indahmu lagi J
Tapi, betapa perihnya hati ini hanya karena sebuah aturan yang berlaku, aku hanya bisa melihatmu dari jauh :’(
Sungguh betapa sakit dan perih hati ini karena keadaan ini :’(
Aku begitu ingin memeluk erat dirimu, bercerita panjang lebar kepadamu, setelah hampir  ± 3 bulan lamanya kita tak bertemu..
Maafkanlah diriku ini nis, sungguh menulis kata-kata ini begitu menyayat hati ini..
Ya Allah, sungguh aku tidak mau begini!
Rasanya aku ingin berlari menghadapmu dan menangis sejadi-jadinya didalam rangkulanmu..
Wahai sahabatku, bintangku...
Annisaa...
            Annisa...
                        Annisa..
                                    L
Apa yang harus kulakukan sekarang?

Wassalam..
            Sahabatmu,


 © Silmi F

Tesss.. tess.. sesuatu yang dingin jatuh basahi secarik kertas itu lagi. Kutunggu dirimu di gerbang kesuksesan ’esok’ hari, kawan. Meskipun tak dapat kukenali lagi apa arti ’esok’ dalam kamus hidupku saat ini.

Terjemah Q.S Al-Falaq

By Hafidh vdunz | At 16.23 | Label : | 0 Comments


Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

1. Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),
2. Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,
3. Dan dari kejahatan malam apabila gelap gulita,
4. Dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhu (talinya),
5. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”


Terjemah Q.S An-Nas

By Hafidh vdunz | At 16.12 | Label : | 0 Comments


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

1. Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,
2. Raja manusia,
3. Sembahan manusia
4. Dari kejahatan (bisikan) syetan yang bersembunyi,
5. Yang membisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6. Dari (golongan) jin dan manusia.”

Gema Kehidupan

By Hafidh vdunz | At 15.25 | Label : , | 0 Comments

GEMA KEHIDUPAN



Suasana pagi yang begitu segar, seakan membuat tulang belulang ini kaku tak kuasa, cahaya matahari yang tak enggan untuk selalu memberikan beribu cahaya kepada sang bumi. Dikala itu daku yang sedang duduk dikursi berdiam diri dalam lamunan terkejutkan oleh suara yang tak aneh lagi di telinga ini, yaah dia kakekku. “Cu.. sedang apa kau? Mari kita berjalan-jalan ke suatu lembah” ujar kakek mengajak daku pergi. Aku pun bangun dari lamunan itu dan segera menyiapkan diri untuk pergi berjalan-jalan bersama sang kakek.

“Iya kek, tunggu sebentar..” ujarku singkat.

Ketika kita sedang dalam perjalanan menuju lembah tersebut, suasana alam kian terasa indah. Hijau, sejuk begitulah yang daku rasakan.

“Mana lembahnya kek? Masih jauh gak?” tanyaku padanya.

“Itu disana, sebentar lagi kok cu..” jawabnya padaku.

Kami pun sampai dilembah itu, Maha Suci Allah.. sungguh lembah ini begitu luas nan indah. Mata ini semakin cinta terhadap alam ketika daku melihat pemandangan disekeliling lembah ini. Begitu pula dengan penciuman ini, seakan jauh dari polusi dan hanya udara segarlah yang daku rasakan ditempat ini. 

“Subhanallaah.. Sungguh agung nan indah ciptaan-Mu ini” ujar kakek seraya melihat kelangit.

Seketika itu daku sangat menikmati aroma keindahan lembah, berlari kain kemari, rasa senang yang daku rasakan. 

“Woooyyyy...” teriakku dengan penuh kegembiraan.

Daku merasa aneh, setelah berteriak dengan penuh semangat. Seakan ada suara yang mengikuti suaraku ini. “Kok ada suara itu yaah?” gumamku dalam hati.

Daku mencoba kembali untuk berteriak dan ternyata masih saja ada yang mengikuti, sama hal nya seperti tadi. Penasaran sekaligus kesal yang daku rasakan membuat hati ini seakan ingin marah kepada suara yang selalu mengikutinya.

“Wooy, suara siapa yang mengikuti suara ku.. keluar kalo berani, dasar jelek.” Teriakku dengan nada yang sangat tinggi.

Dan ternyata suara itu tetap mengikutiku dengan suara yang sama dengan nada yang sangat tinggi, daku terdiam. Merasa aneh kan hal itu, daku bertanya pada sang kakek

“Kek.. siapa sih yang ngikutin suaraku? Aku kesel tau, pengen marahin dia kek..”

Sambil tersenyum kakek pun berkata
“Coba kamu puji dia dengan kalimat-kalimat yang indah jangan dengan nada yang tinggi seperti tadi”

Daku pun menuruti perintah kakek tadi, daku tersenyum setelah melakukan apa yang kakek katakan, ketika daku berteriak dengan suara yang bagus dan dengan pujian-pujian yang begitu indah ternyata daku pun mendapatkan suara yang begitu indah dan memujiku.

Kami pun tersenyum seketika, lalu kakek berkata kepada ku
“Cu.. itulah gema kehidupan. Ketika kau berbuat jahat atau marah-marah seperti tadi ke orang lain, niscaya orang lain pun akan melakukan hal yang sama terhadapmu bahkan bisa lebih kejam dari apa yang kamu lakukan. Begitu pula sebaliknya, ketika kamu berbuat baik dan berkata-kata yang baik kepada orang lain, niscaya orang lain pun akan menyegani mu dan berbuat baik kepadamu”

Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. e-Dakwah al-Hafizh - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz